Kenalan neh…

18 April 1987, Sabtu jam 12.55 siang aku dilahirkan di Tanjung Sari, Palas, Lampung Selatan sebagai anak ketiga dari pasangan Zainal Amanti dan Ellya Roza –Semoga Alloh membalas kebaikan mereka- Aku diberi nama Tri Erza Apriyadi yang artinya:

 

Tri

Berasal dari bahasa jawa yang artinya tiga, tapi mungkin juga dari bahasa inggris, hehe. Nama ini menunjukkan aku punya dua kakak, namanya Eko Ronaldi dan Dwi Erza Saktiawan, laki semuanya deh. Tapi, aku ngga punya adek.

 

Erza

Adalah singkatan nama orangtua, Ellya Roza Zainal Amanti, kreatif bukan? Untuk kakak pertamaku kata Erza belum ditemukan, tetapi Ronal telah menunjukkan hal yang sama, Roza Zainal, ga kalah kreatif deh.

 

Apriyadi

Menunjukkan aku lahir bulan April, kalo Yadi artinya ga jelas, tapi bisa diplesetin menjadi “Yang Disayang”, hehehe.

 

Nah, itu penjelasannya, silahkan dirangkum sendiri. Oya, panggilanku yang resmi adalah didi, pengulangan dari suku kata terakhir dari namaku. Lalu tentang suku neh, aku dah campur-campur deh, ada padang, jawa, banten, dan palembang, tapi lahir dan tinggalnya di lampung. Trus, kata ibuku aku juga punya darah Pakistan, ga tau deh ini berita bener apa ngga, tapi mungkin bener.

 

Masa kecil

Didominasi dengan kegiatan di dalam rumah, maen, makan, nangis, nonton tv item putih, tvri doang, dan kegiatan lainnya. Tapi kemudian coba-coba maen diluar, busyet dah, pertama keluar kagak ngerti bahasa jawa yang dipake anak-anak lainnya, soalnya dirumah pake bahasa Indonesia sih. Tapi, lama-lama ngecun juga. Sama anak-anak ini, Suklis, Yanto, Samto, Pendi, dan lainnya kami maen petak umpet, perang-perangan, dan lain-lain. Tapi, berhubung aku ga sebebas mereka kalo maen, sedikit-sedikit dipanggil: “Didi pulang….” aku dapet gelar anak manja, tapi bodo amat lah.

 

TK Dharmawanita Palas

Yah, mulai sekolah deh, ngegambar, berhitung, nulis, nyanyi, dan lain-lainnya, tau kan kegiatan-kegiatan di TK?

 

SDN 2 Bangunan, Palas

Belajar beneran mulai di SD ini, singkatnya aku jadi bintang kelas deh, lulus sebagai lulusan terbaik trus lanjut ke SMP.

 

SLTP PGRI 2 Palas

Lagi-lagi jadi bintang kelas, hehe, lulus sebagai lulusan terbaik dan lanjut ke SMA.

 

SMA N 2 Bandar Lampung

Untuk menuntut ilmu, terpaksa deh ngga tinggal dengan Ortu, ngusngsi ke Sukarame, Bandar Lampung, ke rumah bibi dari ibuku. Pertama masuk di SMA ini minder euy, biasa anak kampong masuk kota, masuk SMA favorit, beda deh suasananya. Anaknya pinter-pinter. Apalagi pas pelajaran komputer, waduh, baru pertama kali itu bersentuhan dengan tu alat yang katanya canggih. Lucunya, pas si ibu guru bilang Microsoft, aku nyambungnya mikroskop, maka terbengong-bengonglah diriku, “Mana mikroskopnya?” Waduh, bener-bener ndeso-lah. Pas pelajaran bahasa inggris juga, ampun deh…

 

Anehnya, semester pertama dikelas 1.4 (Baca: Ketupat) dapet rangking satu, kaya mimpi aja. Selidik punya selidik begini ceritanya:

 

Aku tuh bisa menguasai semua pelajaran kecuali seni musik dan bahasa inggris. Nah, nilai seni musik terdongkrak oleh seni rupa sedangkan nilai bahasa inggris terdongkrak oleh wali kelas yang adalah guru bahasa inggrisnya, katanya sih dia ga enak aja ngeliat nilai dilaporku yang gede-gede tapi bahasa inggrisnya keci, diseragamkan gitu deh, hehe, tanpa kolusi loh….

 

Disemester duanya pun dapet rangking satu lagi, bahkan juara umum tiga disekolah, tapi ga bangga ah, soalnya nilai bahasa inggrisnya lagi-lagi supaya enak diliat sama wali kelas, aduh…..

 

Akhirnya dikelas dua masuk kelas unggulan hasil seleksi, kelas 2.1 (Baca: Smooth, Smunda of two hiji, bahasa apaan neh?), eh wali kelasnya si guru bahasa inggris lagi, aman deh, hehe. Tapi, sejak di kelas itulah aku ga pernah ngerasain dapet rengking satu lagi, banyak anak yang jauh lebih pinter deh.

 

Walaupun gitu aku lolos seleksi masuk kelas unggulan untuk kelas 3, tepatnya 3 IPA 1 (Baca: IPA SG, nyambung ga? Kalo ngga, baca SG dengan ucapan inggris tapi artiin pake bahasa jawa, ada-ada aja). Dapet guru bahasa inggris yang baru, saatnya belajar bahasa inggris beneran, gimana-gimana kan nih bahasa penting, apalagi di kuliah n dunia kerja ntar, tul ga? Tapi, ya gitu deh, persaingan tambah ketat, di penghujung SMA aku cuma berhasil dapet rangking dua, lumayan lah.

 

Ada yang lebih penting dari akademik. Di SMA inilah aku mulai memaknai hidup, membentuk jati diri, dan belajar menentukan sikap. Setelah terombang-ambing dalam pencarian, di Pasis, Rohis, Karate, dan lainnya, akhirnya aku ketemu dengan seorang yang sebenernya dah aku kenal sejak kelas satu SMA, seorang ikhwan yang membuka mataku untuk melihat dunia baru yang belum pernah terpikir sebelumnya. Konflik dalam diri sendiri, teman, dan keluarga mewarnai tahap ini. Sampai akhirnya pilihan jatuh pada mengikuti kebenaran meskipun terasa pahit. Ceritanya cukup panjang, bukan disini tempatnya.

 

Akhirnya, tiba saat perpisahan SMA, kuputuskan untuk tidak mengikuti acara itu karena beberapa sebab. Selanjutnya, pikiran difokuskan ke nyari tempat kuliah, sasaran IPB, dan ringkasnya diterima di IPB lewat jalur USMI.

 

TPB IPB

Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor, masa-masa ga jelas tanpa jurusan, bisa dibilang SMA kelas 4. Setelah setahun berlalu akhirnya diterima di departemen ITP, Ilmu dan Teknologi Pangan.

 

ITP

Kata orang, ni departemen tempatnya orang-orang paling ngga kompak, individualis. Tapi menurutku ngga juga, aku yakin di tempat lain juga gitu. Gimana mau Kompak, bukankah kita memiliki  karakter yang berbeda, punya prinsip yang beda. Bukankah kita telah melakukan banyak pengorbanan untuk memiliki sikap hidup masing-masing. Bukankan keringat, air mata, dan mungkin darah telah mengalir untuk membentuk sikap. Jadi, ya ga mungkinlah kompak dalam artian selalu bersama.

 

Tapi dibalik semua itu, perbedaan yang ada ngga menghalangi terjadinya komunikasi diantara kita kok, ga percaya? Tanya aja ma anak-anak ITP-42.

 

Saat ini ditulis, aku lagi liburan, masuk nanti berarti tahun keduaku di ITP, artinya sekitar dua tahun lagi Insya Alloh lulus, trus, ya gitulah, tau kan apa yang ada di benak mahasiswa-mahasiswa yang baru lulus…

 

Melanjutkan masa pencarian kebenaran waktu SMA, di sini lebih dasyat deh, intinya, bagiku:

IPB BUKAN CUMA TEMPAT KULIAH, TAPI JUGA TEMPAT PENCARIAN KEBENARAN, TEMPAT PERANG PEMIKIRAN, DAN TEMPAT MENENTUKAN PILIHAN.

 

Harapanku, semoga Alloh menunjukkan kebenaran dan menguatkanku untuk menjalankan kebenaran tersebut, menyabarkan dan menolongku dalam perang pemikiran ini, dan membantuku menentukan pilihan yang baik bagiku dan bagi kaum muslimin.

 

Sekian

5 Sya’ban 1428H

18 Agustus 2007


9 Tanggapan to “Kenalan neh…”

  1. uwe…………………..gak peunting………………………………………………….

  2. salam aja buat anak2 lampung di IPB sana.
    :D

    -IT-

  3. apaan sechhhhh

  4. salam kenal juga dari ane WYT CGT. rupanya ente punya blog juga yeee………… semoga bisa melepas kepenatan antum. sukses ya!!! baarokalllohu fiik. wa sahhalakallohu.

  5. hehe… sama2 smunda… sama-sama IPB jg

  6. Sounds crazy. Sometimes I can’t help but make a move with my emotionalism rejection I have a good fresh joke for you! Did you hear about the butcher who accidentally backed into the meat grinder? He got a little behind in his work.

  7. Lapor Kapten!
    Keadaan di luar aman dan terkendali
    Laporan selesai!

  8. ooo ini tho blognya Tri Erza Apriyadi…

    Piece!!!!

  9. AssaLAMU’ALAIKUM
    Alhamdulillah, buku ke-3 saya sudah terbit euy…
    Pingin liat covernya?
    Coba buka:
    http://proumedia.multiply.com/reviews/item/19
    ato bisa langsung melongok ke blog saya
    http://abduljabbar2008.wordpress.com/buku-3/

    Muhammad Mujianto Abdul Jabbar
    Penulis Pemula yang SEderhana dan Biasa-biasa Saja

Tinggalkan Balasan